Fenomena Minakjinggo

Posted: 17 Maret 2012 in SEJARAH BLAMBANGAN
Tag:
Tulis komentar…

Dulur- Dulur …
Isun milu takon, Prabu Minak Jinggo iku opo bener Rojo Blambangan utowo mong sekedar legenda ?.
Sejata sakti ne hang aran Wesi Kuning iku opo mulo bener2 Wesi opo sebuah kiasan hang nggambaraken kesuburan lan kekeyaan e bumi Banyuwangi ?

SukaTidak Suka · · Berhenti Mengikuti KirimanIkuti Kiriman · Kamis pukul 18:44

    • Paitem Slenthemketip_ketip ambi mco sttse kang pipie://D

      Kamis pukul 18:46 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Hasan Sentot ‘Hansen’ http://wong-using.blogspot.com/2011/03/menak-jinggo-melawan-mitos-dengan-mitos.html

      wong-using.blogspot.com

      Wah Bagus banget pakIjin mau saya tulis ulang dengan gaya bahasa saya pak. Semog…a bisa memberi pencerahan kepada generasi muda seperti saya pak.SalamLihat Selengkapnya
      Kamis pukul 18:47 · Tidak SukaSuka · 3 ·
    • Hapipie MenkPaitem Slenthem, apuo ketip2 ku Mbok…

      Kamis pukul 18:49 · SukaTidak Suka
    • Hapipie Menk Kang Hasan Sentot ‘Hansen’, kesuwun Kang, isun drg tau moco ikai.

      Kamis pukul 18:50 · SukaTidak Suka
    • Paitem SlenthemArep ngrungokno legenda:)songgo uwang

      Kamis pukul 18:51 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Hasan Sentot ‘Hansen’ ‎@ Hapipie Menk: Sepurane Lik, akeh hang salah tulis… mergo kesusu-susu, matanisun wis trahum…..

      Kamis pukul 18:52 · SukaTidak Suka
    • Hapipie Menk Ono ben riko ku Kang Hasan Sentot ‘Hansen’, Yoro mageh tuwekan Pak Sundoro, ha haa

      Kamis pukul 18:55 · SukaTidak Suka
    • Ira RachmawatiAjar pemanggar adalah seorang pendeta yang tidak beristri, tetapi inginmemiliki anak. Banyak orang di sekitar padepokannya yang bertanya-tanya mengapa Ajar Pemanggar sangat ingin mmeiliki anak. Pada suatu hari Ajar Pamanggar menemukan batu mulia di sungai besar yang mengalir di tengah hutan dan kemudian ia berapa memohon kepada dewata agar batu bagus itu menjadi seorang bayi. Ajaib. Tiba-tiba batu tersebut menjadi seorang bayi laki-laki yang berwajah buruk karena raut mukanya seperti moncong anjing. Bayi bermuka anjing itu kemudian dinamakan Kebo Marcuet. Setelah besar, Kebo Marcuet adalah orang yang sakti. Ia minta jodoh dan akhirnya dinikahkan dengan seorang anak pertapa yang bernama Wandasari. Kebo Marcuet kemudian mendirikan kerajaan di Blambangan dan ingin menaklukkan raja di sleuruh jawa. Apaabila melihat perempuan cantik, maka akan di nikahi, akan tetapi saat hamil, perempuan itu akan di bunuhPada waktu Wandasari melahirkan seorang bayi laki-laki, bayi tersebut di selamatkan oleh Ajar PAmanggar ke sebuah desa agar tidka di bunuh. Bayi laki-laki itu di beri nama Jaka Umbaran atau Bambang Minak. Setelah dewasa, Bambang Minak di beri ilmu kesaktian oleh Ajar Pemanggar agar bisa mengalahkan ayahnya, kemudian berganti nama menjadi Minak Jingga. Minak Jingga adalah raja sakti yang tidak takut kepada raja-raja Jawa demi membla kedaulatan Blambangan. Ia memiliki pusaka ampuh yang disebut Gada Besi Kuning. (Kamus Budaya dan Religi Using)

      Kamis pukul 18:55 · Tidak SukaSuka · 2
    • Hapipie MenkPaitem Slenthem, iyo weh hang anteng.

      Kamis pukul 18:56 · SukaTidak Suka
    • Paitem Slenthemhulung kang pie,nak sangu sarung+bledosan jagung,myane tmbh anteng:)sangu jodog

      Kamis pukul 18:57 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1
    • Hapipie MenkMbok Ira, isun yo tau rungu sitik cerito iku. Tp teko kaset Janger. Sampek saiki isun mageh penasaran ttg Prabu Minak Jinggo ambi Wesi Kuning e mau.. Mitos atau Sejarah ?

      Kamis pukul 19:00 · SukaTidak Suka
    • Ira RachmawatiDalam catatan sejarah Blambangan atau Banyuwangi, tidak ada nama Prabu Minak Jingga Akan tetapi jika ada sejarah yang mencatat peperangan antara Blambangan dengan Majapahit sekitar tahun 1404-1406, pada masa itu di pimpin oleh Breh Wirabumi. Kalau buat saya pribadi Minak Jingga adalah sebuah mitos.

      Kamis pukul 19:07 · SukaTidak Suka · 1
    • Hasan Sentot ‘Hansen’‎@ Ira: Iki ceritone Janger… temekaken anane mung ning Banyuwangi. Taping isun sing patio percoyo seru-seru, kadung mitos iki dikarang Wong Blambangan. Malah Isun maykini, kadung iki tetap rekadayane wong-wong Mataram kanggo mendiskreditkan Blambangan. Conto enteng-entengan Alas Purwo hang jare wingit, iku ‘juru-kuncine’ Mbah Semi waktu isun mrono tahun 1989 umure wis 95 tahun. Lakine umur 60 tahun hang ke-8. Mbah Semi yang nggedek-ngedekaken kabar keangkerane Alas Purwo mau temekaken wong teko Blitar. Terus wong-wong hang mertopo ning kono, yo arang wong Banyuwangi (Using), malah akeh wong Mentaraman, ugo ono wong Jombang…. Semono ugo hang ngerekso petilasan Tawang Alun ring Rowo Bayu lan Macan Putih, iku yo wong teko Jowo Kulonan… iku mantan Pasi Itel Kodim Banyuwangi. Hang dalahi sesajen, menyan lan dupo. Akhire kawsan iku mau dienggo pamojan ring wong-wong Kebatinan….

      Kamis pukul 19:08 · Tidak SukaSuka · 2
    • Kifuat Ozink kang lurahe Hasan Sentot ‘Hansen’wes puput sun woco artikel hang riko suguhaken,menggugah adrenalin!!!kesuwun kang.

      Kamis pukul 19:10 · SukaTidak Suka
    • Ira Rachmawati Kang Hasan Sentot ‘Hansen’: Yuhuu……..muncul nama Minak Jinggo itu kan dari Serat Damarwulan, yang buat saya pribadi adalah sastra pesanan dari Majapahit yang tidak bisa mengalahkan Blambangan. Walaupun kita juga tidak memungkiri bahwa latar sejarah diambil adalah perang paregreg….hehehhehe ira jadi ingat mata kuliah tentang Satra Pesanan……mungkin kalo sekarang bisa pake istilah media pemerintah ya

      Kamis pukul 19:22 · SukaTidak Suka · 1
    • Hasan Sentot ‘Hansen’Iku kabeh wis sun tulis nang Blog nduwur mau, taping tulisane selengkrahan. Hang subtansine jelas… he he he.. hang moco mane rodo ‘disikso’

      Kamis pukul 19:26 · Tidak SukaSuka · 1
    • Ira Rachmawatihalah-halah….sebentar meluncur kesana mau “menyiksa mata”

      Kamis pukul 19:28 · SukaTidak Suka
    • Rofik Larosnaping mitos iki wis kladuk dadi sejarah rakyat

      Kamis pukul 23:33 melalui seluler · SukaTidak Suka
    • Rahmat HidayatHasan Sentot ‘Hansen’ison wes komen neng blog e riko…. delengen yak…

      Kemarin jam 5:48 · SukaTidak Suka
    • Hasan Sentot ‘Hansen’Yo Lik kesuwun. Isun yo wis moco. Isun sing nulis sejarah Lik, taping nulis “Realitas Mitos atas Mitos Tokoh Menang Jinggo” di kalangan Masyarakat Banyuwangi (Using) …

      Kemarin jam 7:49 melalui seluler · SukaTidak Suka · 2
    • Hapipie Menk Kang Hasan Sentot ‘Hansen’, kesuwun. Isun mari moco wes Tulisan riko ttg Minak Jinggo. Tp mgh ono hang dadi ganjelan sitik. Kok Minak Jinggo hing masuk ning silsilah rojo2 Blambangan ?

      13 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Asseli Osing Sejarah Kerajaan Belambangan Banyuwangi
      Posted on 17 Maret 2012 by Mas Say LarosKamis,17 Maret 2012Salam Persahabatan…Bagaimana Kabarnya Sahabat Laros?

      Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.

      Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.

      Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

      Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda (Lekkerkerker, 1923).

      Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

      Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

      Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

      Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

      12 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Asseli Osing Wesi kuning jimat Blambangan
      Mandraguna sapa hang duwe
      Menak Jinggo satria nyata
      Sakti adil kanggo negoroAyo kabeh lare Blambangan
      Nyang endi bain siro ning dunya
      Enggonen jimat wesi kuning
      Uripono jiwa satriaSing gampang niru Menak Jinggo
      Tekade atos koyo wesi
      Tingkah polahe jujur lan joyo
      Kaya kuninge barang hang ajiAja mundur satria Blambangan
      Dung iku kanggo keadilan
      Paran maning kanggone nusa
      Ikhlasno nyawa lan raganiro

      Judl gending : Jimat Wesi Kuning
      Syair/lagu : Fatrah Abal/ BS Noerdian
      Tahun cipta/popular :
      Instrumen pengiring :
      Produksi rekaman :

      Fatrah Abal sang pengarang gending “Jimat Wesi Kuning”, tidak berkutat pada pertentangan baik buruknya Menak Jinggo. Namun Fatrah Abal mencoba mengurai makna symbol dari “Jimat Wesi Kuning” yang kono disebut-sebut sebagai sejnata pamungkas milik Menak Jinggo. Spiritnya sama, Fatrah ingin memberi nilai positif tentang sosok Menak Jinggo. Bahkawa tidak mudah menjadi Menak Jinggo dan perlu ditauladani, pengorbanannya, semangat nasionalisme dan perjuanganya.

      Dalam pesannya Fatrah Abal meminta kepada generasi muda Banyuwangi di manapun berada, agar mempunyai tekad yang kuat seperti ‘baja” (wesi) dan mengharumskan nama daerah dengan prestasi seperti kemilau warna emas (kuning).

      Dari ketiga gending tadi, kita sudah bisa memperoleh gambaran umum masyarakat Banyuwangi tentang mitos Menak Jinggo. Para pengarang gending sengaja membiarkan mitos Menak Jinggo tetap dihati masyrakat, namun dengan memberi ‘semangat” baru dengan merubah diksripsi negative menjadi positif. Mereka menolak gambaran tentang tokoh Menak Jinggo yang disebut sebagai Raja Blambangan, karena penggambaran yang dianggap merugikan. Namun bentuk penolakan itu, juga dalam bentuk karya sastra dan berkembang di Banyuwangi. Para pengarang ini juga tidak mau intervensi maupun usul kepada penbguasan yang lebih luas kekuasaannya, atas berkembangnya penggambarkan tokoh Menak Jinggo yang dianggap merugikan. Namun pada tahun 1984, Seniman, Budayawan dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pernah menolak pemuran film dengan judul Damarwulan. Film itu meski dalam cerita banyak berlokasi di Blambangan (Banyuwangi sekarang), namun sang sutradara tidak pernah mengambil gambar di sana. Selain itu, juga tidak pernah konsultasi tentang keberadaan Mitos Damarulan di mata masyarakat Banyuwangi.

      11 jam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Sumono Abdul Hamid‎@ Ira …..tentang cerita Pendeta Ajar Pamanggar …..saya tertawa terpingkal ….kok ngapusi terlalu kentara……mythos orang berkepala anjing itu sudah ada pada zaman Fir “aun dan Yunani….jadi penulisnya pasti Londo goblok……Tentang Serat Damarwulan …kemudian melahirkan langendriyan Damarwulan Menakjinggo …kemudian diperkenalkan bupati zaman Belanda …sulit dikaitkan dengan Mataram ….1850an bupati Banyuwangi adalah pegawai pemerintah Belanda. Sekalipun kebanyakan dari Mataram tetapi dia adalah kaki tangan Belanda…

      sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka · 1
    • Ira Rachmawatihahaha nama nya juga mitos terus sastra pesanan pula

      sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
    • Sumono Abdul HamidSelain itu ada cerita Menakjinggo dari Pem Da Banyuwangi yang dipentaskan dalam Gebyar Kesenian Banyuwangi….mungkin karena telah banyak wong Blambangan yang educated ….dibuat cerita Menakjinggo Bangkit….tetapi saya dan kawan dari Tuban terpingkal..pingkal….Menakjinggo bertempur melawan Ranggalawe…..padahal Ranggalawe pada masa Menakjinggo sudah almarhum ( Ranggalawe sepantaran dengan R.Wijaya…dan meninggal karena pengangkatan Nambi sebagai Mahaptih.

      sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka · 1
Komentar
  1. gcubaselai mengatakan:

    TEST………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s